22 February 2008

Dari Sebuah Buku

(1)
Salah...
Benar...
Apa sih yang manusia cari,
selain kebahagiaan?

Mengapa harus ada yang benar?
Mengapa harus ada yang salah?

Kalau orang menilai salah,
apa benar memang kita salah?

Jika salah, mengapa kutempuh?!
Tentu, karena ada suatu alasan di baliknya.

Tidak bisakah orang melihat dengan sudut pandang berbeda,
sehingga tak ada lagi orang yang terus dipersalahkan...

Terimalah!
Mengertilah!
Jangan seenaknya menilai seseorang,
kalau tidak tahu realitanya!



(2)
Dunia memandangku bahagia,
tapi apa mereka tahu yang sesungguhnya?

Yang terlihat,
bukanlah yang sebenarnya.
Tidak ada bahagia setitik pun dalam hidupku!

Aku kesepian...
Aku butuh seseorang...

Tidak adakah yang mau mendengar jerit hatiku?
Tidak adakah yang mau mengerti liku hidupku?
Tidak adakah seseorang yang dapat aku andalkan?

Mengapa...?!

Aku sendiri lagi,
aku terpuruk lagi!



(3)
Beban yang kupikul terlalu berat.
Sudah lama aku membawanya.
Berat sekali...
Lelah...

Aku ingin membaginya dengan orang lain,
agar beban ini terasa lebih ringan.
Bahkan kalau boleh,
aku ingin melepaskannya!

Tapi tetap aku tak berdaya...



(4)
Aku mencari pelarian...
Barang jahanam yang dicibir dunia,
bahkan olehku...
Tapi di sanalah,
aku merasa sedikit tenang.
Dengan komunitas buangan masyarakat,
aku tahu aku tak sendiri.

Aku tak merasa bersalah,
walau kutahu dunia mempersalahkanku.
Mereka hanya tak mengerti,
siapa yang seharusnya disalahkan.

Kalau aku telah menemukan jalan keluarnya,
tentu aku tak mau lagi terjerumus olehnya.

Oh ya,
Apa aku tidak boleh...
mati saja?!!



(5)
Tak ada lagi jalan keluar bagiku.
Semua pintu telah tertutup.

Tidak barang laknat itu,
Tidak juga cintaku.

Tak ada masa depan lagi,
Tak ada harapan lagi.

Kini yang aku inginkan,
mencari kebebasanku sendiri,
mempercayai kata hatiku,
dan menapaki hidupku sendiri.

Tak perlu lagi orang lain,
Tak perlu lagi logika dunia,
Tak perlu lagi penghakiman sekitar.

Aku percaya pada diriku sendiri,
HANYA AKU..!!

>> Puisi ini terinspirasi dari buku Detik Terakhir karya Alberthiene Endah..

Labels:

Tentang Seseorang

(1)
Masalah...
tak kunjung berhenti datangnya.

Penderitaan...
mendera jiwa tak berdosa.

Kesakitan...
menyerang raga, tak tertahankan.

Yang tersisa hanyalah
kubangan berisi ribuan bimbang,
Akankah semuanya segera berakhir..?



(2)
Ribuan tanya menyerang,
menari-nari di alam pikiran,
yang tak menembus tembok apapun.

Hati cemas berharap,
jantung berdetak semakin cepat.

Ketakutan seakan teman,
setia menemani dalam kesendirian.

Tak seorang pun jua,
hingga detik ini,
mengetahui dan memberikan jawaban...



(3)
Harapan...
Di mana kau?
Apa kau pun tak mengindahkanku?

Seperti bintang yang telah kehilangan sinarnya,
tak ada lagi harapan baginya,
untuk memberikan cahaya dalam gelap.
Sebab...
kegelapan sudah menjadi bagian dirinya!

Tetapi, jika aku masih boleh berharap,
dalam kefanaan dunia ini,
Maka biarkanlah aku hidup!



(4)
Kematian...
aku takut!
Aku takut dengan kematian!!

Biarkanlah aku berharap untuk hidup.
Atau setidaknya,
biarkanlah aku dapat menikmat hidup,
tanpa kesakitan,
tanpa penderitaan,
tanpa kesengsaraan,
di detik-detik terakhir hidupku!

Dengan demikian,
aku siap bila malaikat maut menjemputku!
Aku akan mengikutinya dengan tersenyum,
bersama dengan orang-orang yang terus menyayangiku!



(5)
Aku takut!
Aku cemas!

Bayangkanlah,
kau dapat melihat bagian dalam organ tubuh,
di balik kulitmu yang berlubang,
akibat jahitan operasi yang terobek!

Tuhan, kalau aku boleh jujur,
aku merasa takut!
Aku dapat merasakan nyerinya!

Kalau aku di posisi 'dia',
aku tidak akan sanggup.
Lebih baik KAU cabut saja nyawakut!

Tapi, aku bersyukur tidak di posisi 'dia'!

Aku tidak dapat berkata apapun.
Aku hanya berharap,
dia mau berjuang untuk hidupnya.

Aku percaya,
Tuhan tidak mencobainya, melebihi kekuatannya.

Ya, rencana Tuhan pasti yang terbaik.
Asal kita berserah,
IA pasti tidak akan mengecewakan!


>> Tentang seseorang yang sudah meninggal beberapa waktu yang lalu. Tapi bukan kerena kalah dengan penyakit kankernya itu...

Labels:


Karya Penulis


Saling Sapa



Sponsor


  • FM Radio Blog